Informasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) MI—MTs—MA Mardhatillah Rambutan Tahun Akademik 2025 — 2026, Anda bisa menghubungi Whatsapp 0822-8152-5047

Dekonstruksi Indikator Kualitas Lembaga Pendidikan: Analisis Perbandingan Antara Keunggulan Output dan Nilai Transformasi Humanis Penulis: Yusup Ruswandi, M. Pd

 



JURNAL PEMIKIRAN PENDIDIKAN

Judul: Dekonstruksi Indikator Kualitas Lembaga Pendidikan: Analisis Perbandingan Antara Keunggulan Output dan Nilai Transformasi Humanis

Penulis: Yusup Ruswandi, M. Pd

Email: ruswandiyusup363@gmail.com

*Abstrak*

Prestasi santri seringkali dijadikan barometer tunggal dalam menentukan kualitas sebuah lembaga pendidikan. Namun, indikator ini cenderung mengabaikan variabel "input" dan proses pedagogis yang terjadi di dalamnya. Jurnal ini bertujuan untuk membedah perbedaan antara lembaga yang menerapkan seleksi ketat (input-driven) dengan lembaga yang bersifat inklusif (process-driven). Dengan menggunakan perspektif humanisme dan teori Value-Added, artikel ini berargumen bahwa kualitas sejati sebuah lembaga terletak pada daya transformasinya terhadap santri, bukan sekadar pada hasil seleksi awal yang bersifat elitis. Tulisan ini menyimpulkan bahwa lembaga non-selektif seringkali memiliki kelebihan dalam aspek kesetaraan dan pengorbanan pedagogis yang tidak dimiliki oleh lembaga-lembaga yang hanya mengejar prestise akademik.

Kata Kunci: Kualitas Pendidikan, Transformasi, Humanisme, Seleksi Santri, Kesetaraan.

*Abstract*

The achievement of students (santri) is often utilized as a singular barometer in determining the quality of an educational institution. However, this indicator tends to overlook "input" variables and the pedagogical processes involved. This journal aims to dissect the disparity between highly selective institutions (input-driven) and inclusive institutions (process-driven). Using a humanistic perspective and the Value-Added theory, this article argues that the true quality of an institution lies in its transformative power over students, rather than mere initial selection results that are elitist in nature. The paper concludes that non-selective institutions often possess advantages in aspects of equality and pedagogical sacrifice that are not found in institutions solely pursuing academic prestige.

Keywords: Educational Quality, Transformation, Humanism, Student Selection, Equality.


1. Pendahuluan

Dalam lanskap pendidikan modern, istilah "berkualitas" seringkali mengalami penyempitan makna. Sebuah lembaga dianggap unggul jika mampu meluluskan santri dengan deretan piala dan prestasi. Namun, terdapat sebuah bias metodologis yang jarang dibahas: banyak lembaga meraih status tersebut bukan karena proses pendidikan yang luar biasa, melainkan karena sistem seleksi masuk yang hanya menerima "bibit unggul". Artikel ini akan meninjau ulang standar kualitas tersebut dengan mengedepankan nilai-nilai humanisme dan kesetaraan.

2. Analisis Input: Fenomena Cream Skimming

Lembaga yang hanya menerima santri cerdas secara akademik sebenarnya sedang melakukan praktik Cream Skimming. Secara ilmiah, prestasi yang dihasilkan adalah hasil dari modal kognitif awal santri tersebut. Lembaga dalam hal ini lebih berfungsi sebagai fasilitator bagi mereka yang memang sudah mampu, namun seringkali gagal memberikan dampak signifikan bagi masyarakat luas karena sifatnya yang eksklusif.

3. Nilai Tambah (Value-Added) sebagai Barometer Utama

Kualitas pendidikan yang objektif seharusnya diukur dari seberapa besar perubahan yang dialami santri. Jika sebuah lembaga menerima santri dengan kemampuan rata-rata dan berhasil membimbing mereka menjadi individu yang berdaya, maka lembaga tersebut memiliki Kualitas Transformatif. Inilah yang disebut sebagai nilai tambah (value-added). Sebaliknya, lembaga yang hanya memoles santri jenius seringkali memiliki nilai tambah proses yang rendah karena santri tersebut memang sudah memiliki potensi tinggi sejak awal.

4. Pendidikan dalam Perspektif Humanisme

Ditinjau dari sudut pandang humanisme, pendidikan adalah alat untuk memanusiakan manusia. Lembaga yang tidak menyeleksi santrinya (inklusi) sebenarnya sedang mempraktikkan bentuk pengorbanan tertinggi dalam pendidikan. Mereka memberikan akses bagi mereka yang mungkin ditolak di tempat lain, memberikan perhatian pada mereka yang dianggap "biasa saja", dan memperjuangkan kesetaraan intelektual. Di sinilah letak keunggulan moral yang tidak bisa diukur hanya dengan angka atau piala.

5. Landasan Teoretis dan Pendapat Pakar

 * Ki Hajar Dewantara: Menekankan bahwa pendidikan adalah "tuntunan" terhadap segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak. Kualitas pendidik diukur dari kemampuannya menuntun, bukan sekadar menyaring.

 * Paulo Freire: Melalui konsep pedagogi pembebasan, ia menekankan bahwa pendidikan harus inklusif dan menjadi solusi bagi semua kalangan, bukan alat pemisah strata sosial.

 * Howard Gardner: Teori Multiple Intelligences mengingatkan kita bahwa kecerdasan tidak hanya soal nilai rapor. Lembaga non-selektif memberi ruang bagi keberagaman kecerdasan yang sering terabaikan oleh sistem seleksi kaku.

6. Kesimpulan

Kualitas sebuah lembaga pendidikan tidak boleh dinilai dari "wajah" santri yang masuk, melainkan dari "perubahan" santri saat keluar. Lembaga yang inklusif dan tidak diskriminatif dalam menerima santri merupakan perwujudan nyata dari cita-cita pendidikan nasional yang menjunjung tinggi keadilan sosial dan kemanusiaan.



Daftar Pustaka

 * Bourdieu, P. (1986). The Forms of Capital. Dalam Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education.

 * Dewantara, K. H. (1962). Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian I: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

 * Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Herder and Herder.

 * Gardner, H. (1983). Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.

 * Illich, I. (1971). Deschooling Society. New York: Harper & Row.

 * Palmer, P. J. (1998). The Courage to Teach. San Francisco: Jossey-Bass.

 * Saunders, L. (1999). Value-added Measurement: Post-16 Experience. London: NFER.

0 Komentar